KISAH SALMAN AL FARISI 2

Suatu waktu Nabi Muhammad ditanya oleh sahabatnya.Ya, Rasulullah… adakah orang yang paling disayangi oleh Allah SWT selain Engkau? Nabi Menjawab: Ada, yaitu Salman al Farisi. Lalu sahabat bertanya kembali: kenapa. ya, Rasulallah dia begitu disayang Allah? Kemudian Nabi bercerita bahwa Salman al-Farisi adalah orang yang berasal dari keluarga miskin, sementara ibunya sangat ingin naik haji, tetapi untuk berjalanpun dia tidak bisa. Demikian juga uang untuk pergi ke Tanah Suci tidak punya. Salman al-Farisi begitu bingung menghadapi kondisi itu. Namun akhirnya, Salman al-Farisi memutuskan untuk mengantar ibunya naik haji dengan cara menggendong ibunya dari suatu tempat yang begitu jauh dari Mekkah. Di perlukan waktu berhari-hari untuk melaksanakan perjalanan itu sehingga tanpa terasa punggung Salman al-Farisi sampai terkelupas kulitnya.”

Kisah panjangnya paling tidak seperti ini.

Suatu hari ada seorang anak sholeh yang mengendong ibunya yang tercinta. dikisahkan ibunya sedang sakit dan tidak memungkinkan untuk berjalan sendiri.

saat perjalanan dari kota Madinah menuju kota Mekah dalam rangka melaksanakan ibadah Haji . Bisa dibayangkan panasnya terik matahari ketika siang dan dinginnya malam hari serta beratnya gendongan yang ada di pundaknya bukan? Betapa berbaktinya anak ini kepada ibunya, ingin membahagiakan ibunya yang sedang sakit dengan mengantarkanya menuju rumah Tuhan bahkan dengan menggendongnya, betapa besar pengorbanan dan usahanya.

Ketika akhirnya mereka sampai di kota Mekah untuk melaksanakan ibadah Haji mereka bertemu dengan Rasulullah. Bahagia sekali sang anak beserta ibunya ini ketika mereka bertemu denga Utusan Tuhan yang sangat mereka cintai dan mereka rindukan.
Terjadilah percakapan yang kurang lebih seperti ini

Sang anak bertanya kepada Rasul, “Ya Rasul..apakah saya sudah berbakti kepada orang tua saya? Saya menggendong ibu saya di pundak saya berjalan dari Madinah sampai Kota Mekah untuk melaksanakan ibadah haji”.

Seketika itu pula Rasul menangis, Kemudian Rasul menjawab dengan diiringi tangisnya yang tersedu2, “Wahai Saudaraku, engkau sungguh anak yang luar biasa, engkau benar2 anak sholeh, tapi maaf…..(sambil tetap menangis) apapun yang kamu lakukan di dunia ini untuk membahagiakan orang tuamu…. apapun usaha kerasmu untuk menyenangkan orang tuamu …. tidak akan pernah bisa membalas jasa orang tuamu yang telah membesarkanmu”

Kisah yang indah, semoga dapat membuat kita semua menjadi anak yang lebih baik.

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

KISAH SALMAN AL FARISI 1

Kisah Sahabat: Salman Al-Farisi Radhiallahu ‘anhu

Dari Abdullah bin Abbas Radhiallaahu ‘anhu berkata, “Salman al-Farisi menceritakan biografinya kepadaku dari mulutnya sendiri. Dia berkata, ‘Aku seorang lelaki Persia dari Isfahan, warga suatu desa bernama Jai. Ayahku adalah seorang tokoh masyarakat yang mengerti pertanian. Aku sendiri yang paling disayangi ayahku dari semua makhluk Allah. Karena sangat sayangnya aku tidak diperbolehkan keluar rumahnya, aku diminta senantiasa berada di samping perapian, aku seperti seorang budak saja.

Aku dilahirkan dan membaktikan diri di lingkungan Majusi, sehingga aku sebagai penjaga api yang bertanggung jawab atas nyalanya api dan tidak membiarkannya padam.

Ayahku memiliki tanah perahan yang luas. Pada suatu hari beliau sibuk mengurus bangunan. Beliau berkata kepadaku, ‘Wahai anakku, hari ini aku sibuk di bangunan, aku tidak sempat mengurus tanah, cobalah engkau pergi ke sana!’ Beliau menyuruhku melakukan beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan.

Aku keluar menuju tanah ayahku. Dalam perjalanan aku melewati salah satu gereja Nasrani. Aku mendengar suara mereka yang sedang sembahyang. Aku sendiri tidak mengerti mengapa ayahku mengharuskan aku tinggal di dalam rumah saja (melarang aku keluar rumah).

Tatkala aku melewati gereja mereka, dan aku mendengar suara mereka sedang shalat maka aku masuk ke dalam gereja itu untuk mengetahui apa yang sedang mereka lakukan?

Begitu aku melihat mereka, aku kagum dengan shalat mereka, dan aku ingin mengetahui peribadatan mereka. Aku berkata dalam hati, ‘Demi Allah, ini lebih baik dari agama yang kita anut selama ini.’

Demi Allah, aku tidak beranjak dari mereka sampai matahari terbenam. Aku tidak jadi pergi ke tanah milik ayahku. Aku bertanya kepada mereka, ‘Dari mana asal usul agama ini?’ Mereka menjawab, ‘Dari Syam (Syiria).’

Kemudian aku pulang ke rumah ayahku. Padahal ayahku telah mengutus seseorang untuk mencariku. Sementara aku tidak mengerjakan tugas dari ayahku sama sekali. Maka ketika aku telah bertemu ayahku, beliau bertanya, ‘Anakku, ke mana saja kamu pergi?

Bukankah aku telah berpesan kepadamu untuk mengerjakan apa yang aku perintahkan itu?’ Aku menjawab, ‘Ayah, aku lewat pada suatu kaum yang sedang sembahyang di dalam gereja, ketika aku melihat ajaran agama mereka aku kagum. Demi Allah, aku tidak beranjak dari tempat itu sampai matahari terbenam.’

Ayahku menjawab, ‘Wahai anakku, tidak ada kebaikan sedikitpun dalam agama itu. Agamamu dan agama ayahmu lebih bagus dari agama itu.’ Aku membantah, ‘Demi Allah, sekali-kali tidak! Agama itu lebih bagus dari agama kita.’ Kemudian ayahku khawatir dengan diriku, sehingga beliau merantai kakiku, dan aku dipenjara di dalam rumahnya.

Suatu hari ada serombongan orang dari agama Nasrani diutus menemuiku, maka aku sampaikan kepada mereka, ‘Jika ada rombongan dari Syiria terdiri dari para pedagang Nasrani, maka supaya aku diberitahu.’ Aku juga meminta agar apabila para pedagang itu telah selesai urusannya dan akan kembali ke negrinya, memberiku izin bisa menemui mereka.

Ketika para pedagang itu hendak kembali ke negrinya, mereka memberitahu kepadaku. Kemudian rantai besi yang mengikat kakiku aku lepas, lantas aku pergi bersama mereka sehingga aku tiba di Syiria.

Sesampainya aku di Syiria, aku bertanya, ‘Siapakah orang yang ahli agama di sini?’ Mereka menjawab, ‘Uskup (pendeta) yang tinggal di gereja.’ Kemudian aku menemuinya. Kemudian aku berkata kepada pendeta itu, ‘Aku sangat mencintai agama ini, dan aku ingin tinggal bersamamu, aku akan membantumu di gerejamu, agar aku dapat belajar denganmu dan sembahyang bersama-sama kamu.’ Pendeta itu menjawab, ‘Silahkan.’

Maka akupun tinggal bersamanya.

Ternyata pendeta itu seorang yang jahat, dia menyuruh dan menganjurkan umat untuk bersedekah, namun setelah sedekah itu terkumpul dan diserahkan kepadanya, ia menyimpan sedekah tersebut untuk dirinya sendiri, tidak diberikan kepada orang-orang miskin, sehingga terkumpullah 7 peti emas dan perak.

Aku sangat benci perbuatan pendeta itu. Kemudian dia meninggal. Orang-orang Nasrani pun berkumpul untuk mengebumikannya. Ketika itu aku sampaikan kepada khalayak, ‘Sebenarnya, pendeta ini adalah seorang yang berperangai buruk, menyuruh dan menganjurkan kalian untuk bersedekah. Tetapi jika sedekah itu telah terkumpul, dia menyimpannya untuk dirinya sendiri, tidak memberikannya kepada orang-orang miskin barang sedikitpun.’

Mereka pun mempertanyakan apa yang aku sampaikan, ‘Apa buktinya bahwa kamu mengetahui akan hal itu?’ Aku menjawab, ‘Marilah aku tunjukkan kepada kalian simpanannya itu.’ Mereka berkata, Baik, tunjukkan simpanan tersebut kepada kami.’
Lalu Aku memperlihatkan tempat penyimpanan sedekah itu. Kemudian mereka mengeluarkan sebanyak 7 peti yang penuh berisi emas dan perak. Setelah mereka menyaksikan betapa banyaknya simpanan pendeta itu, mereka berkata, ‘Demi Allah, selamanya kami tidak akan menguburnya.’ Kemudian mereka menyalib pendeta itu pada tiang dan melempari jasadnya dengan batu.

Kemudian mereka mengangkat orang lain sebagai penggantinya. Aku tidak pernah melihat seseorang yang tidak mengerjakan shalat lima waktu (bukan seorang muslim) yang lebih bagus dari dia, dia sangat zuhud, sangat mencintai akhirat, dan selalu beribadah siang malam. Maka aku pun sangat mencintainya dengan cinta yang tidak pernah aku berikan kepada selainnya. Aku tinggal bersamanya beberapa waktu.

Kemudian ketika kematiannya menjelang, aku berkata kepadanya, ‘Wahai Fulan, selama ini aku hidup bersamamu, dan aku sangat mencintaimu, belum pernah ada seorangpun yang aku cintai seperti cintaku kepadamu, padahal sebagaimana kamu lihat, telah menghampirimu saat berlakunya taqdir Allah, kepada siapakah aku ini engkau wasiatkan, apa yang engkau perintahkan kepadaku?’

Orang itu berkata, ‘Wahai anakku, demi Allah, sekarang ini aku sudah tidak tahu lagi siapa yang mempunyai keyakinan seperti aku.
Orang-orang yang aku kenal telah mati, dan masyarakatpun mengganti ajaran yang benar dan meninggalkannya sebagiannya, kecuali seorang yang tinggal di Mosul (kota di Irak), yakni Fulan, dia memegang keyakinan seperti aku ini, temuilah ia di sana!’

Lalu tatkala ia telah wafat, aku berangkat untuk menemui seseorang di Mosul. Aku berkata, ‘Wahai Fulan, sesungguhnya si Fulan telah mewasiatkan kepadaku menjelang kematiannya agar aku menemuimu, dia memberitahuku bahwa engkau memiliki keyakinan sebagaimana dia.’

Kemudian orang yang kutemui itu berkata, ‘Silahkan tinggal bersamaku. Aku pun hidup bersamanya.’ Aku dapati ia sangat baik sebagaimana yang diterangkan Si Fulan kepadaku. Namun ia pun dihampiri kematian. Dan ketika kematian menjelang, aku bertanya kepadanya, ‘Wahai Fulan, ketika itu si Fulan mewasiatkan aku kepadamu dan agar aku menemuimu, kini taqdir Allah akan berlaku atasmu sebagaimana engkau maklumi, oleh karena itu kepada siapakah aku ini hendak engkau wasiatkan? Dan apa yang engkau perintahkan kepadaku?’

Orang itu berkata, ‘Wahai anakku, Demi Allah, tak ada seorangpun sepengetahuanku yang seperti aku kecuali seorang di Nashibin (kota di Aljazair), yakni Fulan. Temuilah ia!’

Maka setelah beliau wafat, aku menemui seseorang yang di Nashibin itu. Setelah aku bertemu dengannya, aku menceritakan keadaanku dan apa yang di perintahkan si Fulan kepadaku.

Orang itu berkata, ‘Silahkan tinggal bersamaku.’ Sekarang aku mulai hidup bersamanya. Aku dapati ia benar-benar seperti si Fulan yang aku pernah hidup bersamanya. Aku tinggal bersama seseorang yang sangat baik.

Namun, kematian hampir datang menjemputnya. Dan di ambang kematiannya aku berkata, ‘Wahai Fulan, Ketika itu si Fulan mewasiatkan aku kepada Fulan, dan kemarin Fulan mewasiatkan aku kepadamu? Sepeninggalmu nanti, kepada siapakah aku akan engkau wasiatkan? Dan apa yang akan engkau perintahkan kepadaku?’

Orang itu berkata, ‘Wahai anakku, Demi Allah, tidak ada seorangpun yang aku kenal sehingga aku perintahkan kamu untuk mendatanginya kecuali seseorang yang tinggal di Amuria (kota di Romawi). Orang itu menganut keyakinan sebagaimana yang kita anut, jika kamu berkenan, silahkan mendatanginya. Dia pun menganut sebagaimana yang selama ini kami pegang.’

Setelah seseorang yang baik itu meninggal dunia, aku pergi menuju Amuria. Aku menceritakan perihal keadaanku kepadanya. Dia berkata, ‘Silahkan tinggal bersamaku.’

Akupun hidup bersama seseorang yang ditunjuk oleh kawannya yang sekeyakinan.

Di tempat orang itu, aku bekerja, sehingga aku memiliki beberapa ekor sapi dan kambing. Kemudian taqdir Allah pun berlaku untuknya. Ketika itu aku berkata, ‘Wahai Fulan, selama ini aku hidup bersama si Fulan, kemudian dia mewasiatkan aku untuk menemui Si Fulan, kemudian Si Fulan juga mewasiatkan aku agar menemui Fulan, kemudian Fulan mewasiatkan aku untuk menemuimu, sekarang kepada siapakah aku ini akan engkau wasiatkan?dan apa yang akan engkau perintahkan kepadaku?’

Orang itu berkata, ‘Wahai anakku, demi Allah, aku tidak mengetahui seorangpun yang akan aku perintahkan kamu untuk mendatanginya. Akan tetapi telah hampir tiba waktu munculnya seorang nabi, dia diutus dengan membawa ajaran nabi Ibrahim. Nabi itu akan keluar diusir dari suatu tempat di Arab kemudian berhijrah menuju daerah antara dua perbukitan. Di antara dua bukit itu tumbuh pohon-pohon kurma. Pada diri nabi itu terdapat tanda-tanda yang tidak dapat disembunyikan, dia mau makan hadiah tetapi tidak mau menerima sedekah, di antara kedua bahunya terdapat tanda cincin kenabian. Jika engkau bisa menuju daerah itu, berangkatlah ke sana!’

Kemudian orang inipun meninggal dunia. Dan sepeninggalnya, aku masih tinggal di Amuria sesuai dengan yang dikehendaki Allah.

Pada suatu hari, lewat di hadapanku serombongan orang dari Kalb, mereka adalah pedagang. Aku berkata kepada para pedagang itu, ‘Bisakah kalian membawaku menuju tanah Arab dengan imbalan sapi dan kambing-kambingku?’ Mereka menjawab, ‘Ya.’ Lalu aku memberikan ternakku kepada mereka.

Mereka membawaku, namun ketika tiba di Wadil Qura, mereka menzha-limiku, dengan menjualku sebagai budak ke tangan seorang Yahudi.

Kini aku tinggal di tempat seorang Yahudi. Aku melihat pohon-pohon kurma, aku berharap, mudah-mudahan ini daerah sebagaimana yang disebutkan si Fulan kepadaku. Aku tidak biasa hidup bebas.

Ketika aku berada di samping orang Yahudi itu, keponakannya datang dari Madinah dari Bani Quraidzah. Ia membeliku darinya. Kemudian membawaku ke Madinah. Begitu aku tiba di Madinah aku segera tahu berdasarkan apa yang disebutkan si Fulan kepadaku. Sekarang aku tinggal di Madinah.

Allah mengutus seorang RasulNya, dia telah tinggal di Makkah beberapa lama, yang aku sendiri tidak pernah mendengar ceritanya karena kesibukanku sebagai seorang budak. Kemudian Rasul itu berhijrah ke Madinah. Demi Allah, ketika aku berada di puncak pohon kurma majikanku karena aku bekerja di perkebunan, sementara majikanku duduk, tiba-tiba salah seorang keponakannya datang menghampiri, kemudian berkata, ‘Fulan,

Celakalah Bani Qailah (suku Aus dan Khazraj). Mereka kini sedang berkumpul di Quba’ menyambut seseorang yang datang dari Makkah pada hari ini. Mereka percaya bahwa orang itu Nabi.’

Tatkala aku mendengar pembicaraannya, aku gemetar sehingga aku khawatir jatuh menimpa majikanku. Kemudian aku turun dari pohon, dan bertanya kepada keponakan majikanku, ‘Apa tadi yang engkau katakan? Apa tadi yang engkau katakan?’ Majikanku sangat marah, dia memukulku dengan pukulan keras. Kemudian berkata, ‘Apa urusanmu menanyakan hal ini, Lanjutkan pekerjaanmu.’

Aku menjawab, ‘Tidak ada maksud apa-apa, aku hanya ingin mencari kejelasan terhadap apa yang dikatakan. Padahal sebenarnya saya telah memiliki beberapa informasi mengenai akan diutusnya seorang nabi itu.’

Pada sore hari, aku mengambil sejumlah bekal kemudian aku menuju Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam, ketika itu beliau sedang berada di Quba, lalu aku menemui beliau. Aku berkata, ‘Telah sampai kepadaku kabar bahwasanya engkau adalah seorang yang shalih, engkau memiliki beberapa orang sahabat yang dianggap asing dan miskin. Aku membawa sedikit sedekah, dan menurutku kalian lebih berhak menerima sedekahku ini daripada orang lain.’

Aku pun menyerahkan sedekah tersebut kepada beliau, kemudian Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda kepada para sahabat, ‘Silahkan kalian makan, sementara beliau tidak menyentuh sedekah itu dan tidak memakannya. Aku berkata, ‘Ini satu tanda kenabiannya.’

Aku pulang meninggalkan beliau untuk mengumpulkan sesuatu. Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam pun berpindah ke Madinah. Kemudian pada suatu hari, aku mendatangi beliau sambil berkata, ‘Aku memperhatikanmu tidak memakan pemberian berupa sedekah, sedangkan ini merupakan hadiah sebagai penghormatanku kepada engkau.’

Kemudian Rasulullah makan sebagian dari hadiah pemberianku dan memerintahkan para sahabat untuk memakannya, mereka pun makan hadiahku itu. Aku berkata dalam hati, ‘Inilah tanda kenabian yang kedua.’

Selanjutnya aku menemui beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau berada di kuburan Baqi’ al-Gharqad, beliau sedang mengantarkan jenazah salah seorang sahabat, beliau mengenakan dua lembar kain, ketika itu beliau sedang duduk di antara para sahabat, aku mengucapkan salam kepada beliau. Kemudian aku berputar memperhatikan punggung beliau, adakah aku akan melihat cincin yang disebutkan Si Fulan kepadaku.

Pada saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatku sedang memperhatikan beliau, beliau mengetahui bahwa aku sedang mencari kejelasan tentang sesuatu ciri kenabian yang disebutkan salah seorang kawanku. Kemudian beliau melepas kain selendang beliau dari punggung, aku berhasil melihat tanda cincin kenabian dan aku yakin bahwa beliau adalah seorang Nabi. Maka aku telungkup di hadapan beliau dan memeluknya seraya menangis.

Rasulullah bersabda kepadaku, ‘Geserlah kemari,’ maka akupun bergeser dan menceritakan perihal keadaanku sebagaimana yang aku ceritakan kepadamu ini wahai Ibnu Abbas. Kemudian para sahabat takjub kepada Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam ketika mendengar cerita perjalanan hidupku itu.”

Salman sibuk bekerja sebagai budak. Dan perbudakan inilah yang menyebabkan Salman terhalang mengikuti perang Badar dan Uhud. “Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam suatu hari bersabda kepadaku, ‘Mintalah kepada majikanmu untuk bebas, wahai Salman!’ Maka majikanku membebaskan aku dengan tebusan 300 pohon kurma yang harus aku tanam untuknya dan 40 uqiyah.

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salllam mengumpulkan para sahabat dan bersabda, ‘Berilah bantuan kepada saudara kalian ini.’ Mereka pun membantuku dengan memberi pohon (tunas) kurma. Seorang sahabat ada yang memberiku 30 pohon, atau 20 pohon, ada yang 15 pohon, dan ada yang 10 pohon, masing-masing sahabat memberiku pohon kurma sesuai dengan kadar kemampuan mereka, sehingga terkumpul benar-benar 300 pohon.

Setelah terkumpul Rasulullah bersabda kepadaku, ‘Berangkatlah wahai Salman dan tanamlah pohon kurma itu untuk majikanmu, jika telah selesai datanglah kemari aku akan meletakkannya di tanganku.’ Aku pun menanamnya dengan dibantu para sahabat. Setelah selesai aku menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salllam dan memberitahukan perihalku. Kemudian Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam keluar bersamaku menuju kebun yang aku tanami itu. Kami dekatkan pohon (tunas) kurma itu kepada beliau dan Rasulullah pun meletakkannya di tangan beliau. Maka, demi jiwa Salman yang berada di TanganNya, tidak ada sebatang pohon pun yang mati.

Untuk tebusan pohon kurma sudah terpenuhi, aku masih mempunyai tanggungan uang sebesar 40 uqiyah. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salllam membawa emas sebesar telur ayam hasil dari rampasan perang. Lantas beliau bersabda, ‘Apa yang telah dilakukan Salman al-Farisi?’ Kemudian aku dipanggil beliau, lalu beliau bersabda, ‘Ambillah emas ini, gunakan untuk melengkapi tebusanmu wahai Salman!’

Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salllam, bagaimana status emas ini bagiku? Rasulullah menjawab, ‘Ambil saja! Insya Allah, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberi kebaikan kepadanya.’ Kemudian aku menimbang emas itu. Demi jiwa Salman yang berada di TanganNya, berat ukuran emas itu 40 uqiyah. Kemudian aku penuhi tebusan yang harus aku serahkan kepada majikanku, dan aku dimerdekakan.

Setelah itu aku turut serta bersama Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam dalam perang Khandaq, dan sejak itu tidak ada satu peperangan yang tidak aku ikuti.” [1]

PELAJARAN YANG DAPAT DIPETIK:

  1. Di antara hasil/buah mentaati kedua orang tua adalah dicintai orang.
  2. Masuk penjara, cekal, rantai adalah cara musuh Islam menghalangi kaum muslimin dalam menegakkan agama Allah.
  3. Jika gigih memperjuangkan keimanan maka urusan dunia terasa ringan.
  4. Berpegang pada keimanan lebih kokoh dari seluruh rayuan.
  5. Hendaknya seorang mukmin senantiasa siap mental menghadapi segala kemungkinan.
  6. Terkadang orang-orang jahat mengenakan pakaian/menampakkan diri sebagai orang baik-baik.
  7. Jalan mencapai ilmu tidak bisa ditempuh melainkan dengan senantiasa dekat dengan orang yang berilmu.
  8. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah memberikan jalan keluar dari problematika hidupnya.
  9. Takaran keimanan seseorang adalah mencintai dan membenci karena Allah.
  10. Di antara akhlak terpuji para nabi adalah mau mendengarkan seseorang yang sedang berbicara dengan baik.
  11. Seorang pemimpin hendaknya senantiasa memantau kondisi bawahannya.
  12. Diperbolehkan membeli budak dari tawanan perang, menghadiahkan dan memerdekakannya.
  13. Saling tolong menolong adalah gambaran dari wujud hidup bermasyarakat.
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Sunnah Rasul; Adab Memotong Kuku


potong kuku sesuai sunnah nabi Sunnah Rasul; Adab Memotong KukuMUNGKIN diantara kita atau kebanyakan kita, ketika memotong kuku asal-asalan—mulai dari tangan kiri atau kanan, pokoknya tak beraturan. Walaupun ia dilihat hanya perkara kecil, namun kadang-kadang ia adalah perkara besar.

Dalam beberapa perkara hukum Islam, kuku tidak seharusnya diabaikan oleh umat Islam. Misalnya ketika seorang dalam keadaan ihram haji atau umrah didenda membayar dam karena memotong kukunya. Demikian juga kuku bisa menyebabkan tidak sah-nya wudhu atau mandi junub, jika air tidak atau terhalang sampai ke kuku.

Beberapa permasalahan lainnya, yang berhubungan dengan kuku dari segi hukum, hikmah memotong kuku, memanjangkan dan mewarnanya akan dibincangkan dalam bahasan kali ini.

1. Hukum Dan Hikmah Memotong Kuku
Memotong kuku adalah amalan sunah. Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha: “Sepuluh perkara yang termasuk fitrah (sunnah): memotong kumis, memelihara jenggot, bersiwak, memasukkan air ke hidung, memotong kuku, membasuh sendi-sendi, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu ari-ari, bersuci dengan air (beristinja), berkata Zakaria: “berkata Mus’ab: “Aku lupa yang kesepuluh kecuali berkumur.”

Sekali lagi ini adalah bentuk menghilangkan segala kotoran yang melekat di celah kuku, apalagi jika kuku dibiarkan panjang.

2. Cara Dan Benda Untuk Memotong Kuku

Menurut Imam an-Nawawi, sunah memotong kuku bermula jari tangan kanan keseluruhannya dan dimulai dari jari kelingking lalu sampai pada ibu jari, kemudian tangan kiri dari jari kelingking ke ibu jari.

Sementara alat untuk memotong kukunya dapat menggunakan gunting, pisau atau benda khas yang tidak menyebabkan mudharat pada kuku atau jari seperti alat pemotong kuku.

Setelah selesai memotong kuku, sebaiknya segera membasuh tangan dengan air. Ini karena jika seseorang itu menggaruk anggota badan, dikahawatirkan akan menyebabkan penyakit kusta.

Menurut kitab al-Fatawa al-Hindiyah dalam mazhab Hanafi bahawa makruh memotong kuku dengan menggunakan gigi juga akan menyebabkan penyakit kusta.

3. Waktu Memotong Kuku
Sebagaimana diriwayatkan daripada Anas bin Malik:

“Telah ditentukan waktu kepada kami memotong kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu ari-ari agar kami tidak membiarkannya lebih daripada empat puluh malam.”

“Adapun menurut Imam asy-Syafi’e dan ulama-ulama asy-Syafi’eyah, sunah memotong kuku itu sebelum mengerjakan sembahyang Juma’at, sebagaimana disunatkan mandi, bersiwak, memakai wewangian, berpakaian rapi sebelum pergi ke masjid untuk mengerjakan shalat Juma’at,” (Hadis riwayat Muslim)

4. Menanam Potongan Kuku
Sebagaimana disebutkan dalam kitab Fath al-Bari, bahawa Ibnu ‘Umar Radhiallahu ‘anhu menanam potongan kuku.

5. Memotong Kuku Ketika Haid, Nifas Dan Junub
Menurut kitab Al-Ihya’, jika seseorang dalam keadaan junub atau berhadas besar, janganlah dia memotong rambut, kuku atau memotong sesuatu yang jelas daripada badannya sebelum dia mandi junub. Kerana segala potongan itu di akhirat kelak akan kembali kepadanya dengan keadaan junub.

6. Memanjangkan Kuku Dan Mewarnainya ( Cutex)
Tabiat memanjangkan kuku dan membiarkannya tanpa dipotong adalah perbuatan yang bertentangan dengan sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihhi wasallam, karena beliau menggalakkan supaya memotong kuku. Jika dibiarkan kuku itu panjang, niscaya banyak perkara-perkara yang membabitkan hukum seperti wudhu, mandi wajib dan sebagainya.

Adapun dalam hal mewarnai kuku (cutex), perempuan yang bersuami adalah haram mewarnai kuku jika suaminya tidak mengizinkan. Sementara perempuan yang tidak bersuami pula, haram baginya mewarnai kuku. Demikian juga jika pewarna itu diperbuat dari benda najis karena akan menghalang daripada masuknya air saat berwudhu.

sumber: indahislam

Posted in Uncategorized | Leave a comment

BACAAN SHALAT JENAZAH

Bacaan Sholat Jenazah dan Artinya

Walaupun kita jarang melaksanakan shalat jenazah, maka tak ada salahnya, melalui blog Fiqih ini, Saya akan menuliskan  bacaan sholat jenazah dan artinya secara lengkap, baik dalam huruf arabnya maupun dalam transliterasinya. Karena sangat jarang dipakai,  terkadang banyak orang yang lupa bacaan shalat jenazah tersebut terutama doa yang dibaca setelah takbir ke 3 dan ke 4. Oleh karenanya, mungkin dengan artikel ini, diharapkan bisa membantu mengingat kembali bacaan-bacaan tersebut.

Baiklah Saya mulai, berikut ini bacaan sholat jenazah dan artinya yang Saya susun secara tertib.

Bacaan niat shalat  jenazah
Niat shalat jenazah, boleh dilafadzkan bagi yang suka, bagi yang tidak suka, cukup dalam hati saja.

اُصَلِّي علي هذا الَميّتِ ِلله تعالي

 

Ushallii ‘alaa haadzal mayyiti lillaahi ta’aala

 

Aku niat menshalatkan mayyit ini, karena Allah Ta’aala

Lafadz

هذا الَميّتِ /haadzal mayyiti

diganti dengan

هذه الَميّتِة /haadzihil mayyitati

jika mayatnya perempuan.

 

Bacaan setelah takbir pertama.
Setelah takbir pertama, bacaan yang dibaca adalah surat Al Fatihah. Menurut qoul ulama fiqih yang shahih, bacaan Fatihah dalam shalat jenazah tidak diawali dengan bacaan iftitah dan tidak disertai membaca surat pendek setelahnya, seperti halnya shalat pada umumnya. Namun disunatkan membaca ta’awwudz dahulu sebelum membaca Fatihah.

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

 

A’uudzubillaahi minasy syaithaanir rajiim

 

Aku berlindung dari syaitan yang terkutuk

Lalu selanjutnya membaca surat Al Fatihah.

Bacaan setelah takbir ke dua.
Bacaan setelah takbir kedua yaitu membaca shalawat kepada Nabi.

أللهم صَلِّ علي محمد وعلي ألِ محمد كما صَلَيْتَ علي إبراهيم وعلي أل إبراهيم وبارِكْ علي محمد وعلي أل محمد كما باركت علي إبراهيم وعلي أل إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد

 

Allaahumma shalli ‘alaa  muhammadin, wa ‘alaa aali  muhammadin, kamaa shallaita ‘alaa ibraahiima, wa ‘alaa aali  ibraahiima. Wa baarik ‘alaa  muhammadin, wa ‘alaa aali  muhammadin, kamaa baarakta ‘alaa ibraahiima, wa ‘alaa aali  ibraahiima.  Fil ‘aalamiina innaka hamiidum majiid.

 

“Ya Allah, berilah rahmat kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung. Berilah berkah kepada Muhammad dan keluarganya (termasuk anak dan istri atau umatnya), sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung.”

Bacaan setelah takbir  ke tiga
Setelah takbir ke tiga, membaca doa di bawah ini :

اللهم اغْفِرْ لَهُ وارْحَمهُ وعافِهِ واعفُ عنه وأَكْرِمْ نُزولَهُ ووسِّعْ مَدخلَهُ واغْسِلْهُ بِماءٍ وثَلْج وبَرَدٍ ونَقِهِ من الخَطايا كما يُنَقَي الثَوبُ الأَبْيَضُ مِنِ الدَنَسِ وأَبْدِلْهُ دارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وأَهْلًا خَيْراً من أهلِهِ وَزَوْجًا خَيْراً مِن زَوْجِهِ وَقِهِ فِتْنَةَ القَبْرِ وعَذَابَ النارِ

 

Allaahummaghfirlahu, warhamhu, wa ‘aafihi, wa’fu ‘anhu, wa akrim nuzuulahu, wa wassi’ madkhalahu, waghsilhu bimaa-in watsaljin wabaradin, wanaqqihi minal khathaayaa kamaa yunaqqats tsaubul abyadhu minaddanasi, wa abdilhu daaran khairan min daarihi, wa ahlan khairan min ahlihi, wa zaujan khairan min zaujihi, waqihi fitnatal qabri wa ‘adzaabannaar.

 

Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, maafkanlah dia,  ampunilah kesalahannya, muliakanlah kematiannya, lapangkanlah kuburannya, cucilah kesalahannya dengan air, es dan embun  sebagaimana mencuci pakaian putih dari kotoran, gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik, gantilah keluarganya dengan keluarga yang lebih baik, gantilah istrinya dengan isri yang lebih baik, hindarkanlah dari fitnah kubur dan siksa neraka.

Bacaan setelah takbir ke empat
Setelah takbir ke empat, membaca doa di bawah ini :

اللهُمّ لاتَحرِمْنا أَجْرَهُ ولاتَفْتِنّا بَعدَهُ

 

Allaahumma laa tahrimnaa ajrahu, walaa taftinnaa ba’dah

 

Ya Allah, janganlah Engkau haramkan Kami dari pahalanya, dan janganlah Engkau beri fitnah pada kami setelah kematiannya.

Bacaan salam.
Setelah membaca doa takbir ke empat, bacala salam.

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh

 

“Keselamatan, rahmat Allah dan keberkahan-Nya semoga untuk kalian semua”

Posted in Uncategorized | Leave a comment

DOA UNTUK ORANG SAKIT

DO’A UNTUK ORANG SAKIT

 

1)

عن عائشة رضى الله عنها: ان النبي صلعم كان اذااشتكى الانسان الشئ منه, اوكانت به قرحة اوجرح قال النبى صلعم باسبعه هكذا. ووضع سفيان بن عيينة الراوى سبابته بالأرض ثم رفعها, وقال: باسم الله تربة ارضنا بريقة بعضنا يشفى به سقيمنا باذن ربنا . متفق عليه

1) Artinya: Aisyah r.a berkata: Adanya Nabi SAW jika didatangi oleh orang yang mengeluh sakit atau luka, maka Nabi SAW meletakkan jari telunjuknya ke tanah dan diludahi sedikit, kemudian diusapkan kepada apa yang dirasakan sambil berdo’a: BISMILLAHI TURBATU ARDLINA BIRIQOTI BA’DLINA YUSYFA SAQIMUNA BI’IDZNI ROBBINA (dengan nama Allah tanah kami dengan ludah setengah dari kami, semoga disembuhkan orang sakit ini dengan izin Tuhan kami) Buchori – Muslim

 

2)

وعنها: ان النبي صلعم كان يعود بعض اهله يمسح بيده اليمنى, ويقول:

اللهم رب الناس اذهب البأس اشف انت الشافى, لا شفاء الا شفا ؤك, شفاء لا يغادر سقما. متفق عليه

2) Aisyah RA. Berkata: Adalah Nabi SAW berziarah kepada salah seorang keluarganya yang sedang sakit, maka ia mengusap-usap sisakit dengan tangan kanannya sambil membaca: Allahumma Rabbannasi adzhibil ba’sa isyfi antasyafi la syifa’a illa syifa’uka syifa’an la yughadiru saqaman:(Ya Allah Tuhan dan semua manusia hilangkan segala penyakit, sembuhkanlah, hanya Engkau yang dapat menyembuhkan, tiada kesembuhan kecualai dari padaMU, sembuh yang tidak dihinggapi penyakit lagi (Buchory+ Muslim)

 

3)

وعن انس رضي الله عنه انه قال لثا بت رحمه الله: الا ارقيك برقية رسول الله صلعم, قال: بلى, اللهم رب الناس مذهب الباس اشف انت الشافى, لا شافى الا انت شفاء لا يغادر سقما – روه البخارى —

3) Artinya: Anas r.a berkata kepada Tsabit: Maukah aku menjampi/ mengobatimu dengan jampi/obat dari Rasulullah SAW? Jawab Tsabit: Baiklah, maka Anas membaca: Allahuma robbannasi mudzhibal bas, isy fi anta syafii, la syafiya illa anta syifa’an la yughodiru saqoman (Ya Allah Tuhan semua manusia, yang menghalaukan segala penyakit, sembuhkanlah, hanya Engkau yang bisa menyembuhkan, Tiada yang menyembuhkan kecuali Engkau, sembuh yang tidak dihinggapi penyakit lagi (Buchori)

 

 

4)

وعن سعد بن ابى وقاص رضي الله عنه قال: عاد نى رسول الله صلعم: فقال: اللهم اشف سعدا, اشف سعدا, اشف سعدا – روه مسلم

4) Sa’ad bin Abi Waqash r.a berkata: Ketika Rasulullah SAW menengok saya, ia berdo’a: Allahumasyfi Sa’dan, Allahumasyfi Sa’dan, Allahumasyfi Sa’dan ( Ya Allah sembuhkanlah Sa’ad) 3x

 

5)

وعن ابى عبد الله عثمان بن ابى العاص رضى الله عنه انه شكا الى رسول الله صلعم وجعا يجده فى جسده, فقال له رسول الله صلعم: ضع يدك على الذ يألم من جسدك, وقل: بسم الله ثلاث. وقل سبع مرات: اعوذ بعزة الله وقدرته من شرما اجد واحا ذر– رواه مسلم

 

5) Abu Abdillah (Usman) bin Abdil ‘Ash r.a. Ia telah mengeluh kepada Rasulullah SAW dari penyakit yang dideritanya, maka Rasulullah saw berkata kepadanya: Letakkan tangan di tempat dimana engkau merasa sakit, lalu bacalah: Bismillah 3x. Kemudian bacalah: A’udzu bi’izzatillahi waqudratihi min syarri ma ajidu wa uha dziru 7x. ( Aku berlindung kepada kemulyaan dan kekuasaan Allah dari bahaya yang saya rasakan dan saya kuatirkan. (Muslim)

 

6)

وعن ابن عباس رضي الله عنهما عن النبي صلعم قال: من عار مريضا لم يحضر اجله, فقال: عنده سبع مرات: اسأل الله العظيم رب العرش العظيم ان يشفيك الا عافاه الله مندالك المرض – روه ابوداود والتر مذى

6) Artinya: Ibn Abbas r.a berkata: Bersabda Nabi SAW: Siapa yang menjenguk orang sakit yang belum tiba ajalnya, kemudian dibacakan do’a ini 7 (tujuh) kali, pasti Allah akan menyembuhkan penyakitnya. Yaitu: as’alullahal adhim, robbal ‘arsyil adhim an-yasyfiyaka 7x (aku mohon kepada Allah yang Maha Agung, Tuhan mempunyai Arsy yang Besar, semoga Allah menyembuhkan engkau 7x)

(Abu Dawud, Attirmidzy dan alhakim)

 

7)

وعنه: أن النبى صلعم دخل على اعرا بي يعوده, وكان اذا دخل على من يعوه, قال:

لا بأس طهور انشاء الله — رواه البخارى

 

7) Ibnu Abbas r.a. berkata: Nabi saw pernah menjenguk seorang Badui (yang sakit), dan biasa Nabi jika menjenguk pada orang sakit Beliau berkata: La Ba’sa Thohurun insya Allah. (Tidak apa-apa, semoga penyakit ini menjadi pencuci dari dosa-dosa insya Allah. (Buchory)

 

8)

وعن ابى سعيد الخذرى رضي الله عنه: ان جبريل اتى النبي صلعم فقال: يا محمد اشتكيت؟ قال: نعم,قال: بسم الله ارقيك, من كل شيء يؤذيك, من شر كل نفس او عين حا سد الله يشفيك باسم الله ارقيك. – رواه مسلم –

8) Artinya: Abu Sa’id Al-Chudry r.a berkata: Djibril datang kepada Nabi SAW dan bertanya: Ya Muhammad kau sakit? Jawab Nabi: Ya, maka Djibril membaca do’a: Bismillahi arqika min kulli syai’in yu’dzika wamin syarri kulli nafsin au’aini hasidin Allahu yasyfika bismillahi arqika.(Dengan nama Allah saya mengobati kau dari segala yang mengganggu mu, dan dari bahaya tiap nafsu atau mata penghasud. Allah yang menyembuhkan kau. Dengan nama Allah saya mengobati kau)

(Muslim)

9)

وعن ابى سعيد الخذرى و ابى هريرة رضي الله عنهما انهما شهدا على رسول الله صلعم انه قال: من قال: لا اله الا الله اكبر صدقه ربه, فقال: لا اله الاانا وانا اكبر, واذا قال: لا اله الا الله وحده لا شريك له, قال:يقول: لااله الا انا وحدي لاشريكلى, واذا قال: لااله الاالله له الملك وله الحمد, قال: لااله الا انا لى الحمد ولى الملك, واذا قال: لااله الا الله ولا حول ولا قوة الا با الله, قال: لااله الا انا, ولا حول ولا قوة الا بى, وكان يقول: من قالها فى مرضه ثم مات لم تطمه النار –رواه الترمذي —

9) Artinya: Abu Sa’id Al-chudry r.a dan Abu Hurairah keduanya menyaksikan bahwa Rasulullah SAW bersabda: siapa yang membaca: La ilaha illahu wallahu akbar, maka akan dibenarkan (dijawab) oleh Tuhan: Benar Tiada Tuhan kecuali Aku, dan Aku yang Terbesar. Dan jika kamu membaca: La ilaha illahu wahdahu la syarikalahu, dijawab oleh Tuhan : Benar Tidak ada Tuhan kecuali Aku sendiri, dan tiada sekutu bagiku. Dan jika membaca: La ilaha illahu lahul mulku walahul hamdu, dijawab oleh Tuhan: Benar Tiada Tuhan kekuasaan kerajaan, dan jika berkata: La ilaha illahu wala haula wala quwwata illa billah. Dijawab oleh Tuhan: benar, tiada Tuhan kecauali Aku, dan tiada daya dan kekuatan kecuali dengan bantuan pertolongan-KU, Nabi bersabda: siapa yang membaca semua kalimat itu, ketika sakit kemudian mati dalam sakit itu, tidak akan dimakan api neraka.

(Tirmidzy)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

TENTANG KORMAT HAJI

ntah siapa yang pertama kali menamai ritual ini dengan Walimatus safar. Karena kalo dilihat dari segi bahasa, artinya agak aneh. Walimah itu artinya Pesta, safar itu artinya Perjalanan. Acara ini lagi rame-ramenya di komplek simbah. Dalam seminggu ini sudah 3 undangan simbah terima. Dan belum satupun undangan simbah datangi.

 

Acara ini dhohirnya adalah ajang pamitan bagi jamaah calon Haji yang hendak berangkat ke tanah suci. Tapi di dalam lubuk hati yang paling ndlesep, simbah merasakan adanya kejanggalan dan celah, yang mana syetan bisa memanfaatkan celah tersebut agar manusia tergelincir.

 

Simbah merasakan janggal, karena biasanya yang namanya orang pamitan, justru dia yang datang ke orang yang bersangkutan trus tinggal bilang pamit. Sambil meninggalkan pesan seperlunya. Ini malah yang mau dipamiti diundang, disuruh datang ke rumahnya. Secara adab kewalik, jadinya malah kurang adab.

 

Kemudian kalau memang intinya pamitan, mengapa untuk kepergian ke tempat-tempat jauh yang lain, yang juga memakan waktu lama mereka tidak mengadakan acara yang serupa? Simbah belum pernah melihat TKW yang mau berangkat ke Luar Negeri misal ke Kuwait, bahkan ke Arab Saudi, mengadakan yang namanya Walimatus Safar ini. Padahal jarak kepergiannya sama-sama jauh dan bahkan lebih lama. Juga gak pernah ada mahasiswa yang mau kuliah di luar negeri ngadain Walimatus Safar macem priyayi-priyayi yang mau munggah kaji itu. Mungkin ada yang beralasan, ini acara khusus untuk pergi haji saja. Kalo khusus untuk haji, ini masuk bagian mana dari Haji? Rukunnya, sunnahnya atau wajibnya?? Setahu simbah gak ada tuh di ketiga kategori ini yang namanya walimatussafar.

 

Selain bermasalah dari segi adab, acara ini bermasalah dari segi amalan. Suatu amalan yang baik adalah amalan yang ikhlas. Menjaga agar amalan kita ikhlas adalah hal yang susah. Dengan menghadirkan orang ke rumah sambil woro-woro mau naik Haji adalah perbuatan yang beresiko tinggi. Simbah gak mengatakan kalo amalan orang tersebut jadi gak ikhlas. Tapi yang jelas akan semakin susah menjaga keikhlasan.

 

Haji adalah ibadah mahal. Untuk bisa menjalankannya butuh persiapan besar. Setan gak suka lihat amal sholeh manusia dinilai baik. Maka setan selalu mencari celah untuk bisa merusak amal manusia. Sudah sepantasnya kita yang mau beramal, berusaha menjaga amalan kita tetap ikhlas, tidak bertendensi apapun, dan tidak membanggakan amalan kita di depan makhluk.

 

Kalo hal ini tidak diperhatikan, maka setiap tahun negeri kita ini hanya mengirim orang-orang yang rusak amalannya. Pulang dari haji, yang korupsi tetep korupsi, yang ngrampok kembali ngrampok, yang jadi mucikari tetep saja mucikari. Bedanya ada tambahan titel “H” di depan namanya. __________________________

 

Walimatus Safar

 

Simbah hanya mendapati adanya anjuran untuk melakukan shalat sunnah safar dua rakaat sebelum keberangkatan. Dan dianjurkan di dalam sholat, setelah membaca Al-Fatihah untuk membaca surat Al-Kafirun di rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas di rakaat kedua.

 

Selebihnya yang kita dapati dalilnya justru penyambutan ketika seseorang kembali dari haji. Di mana para ulama mengatakan dianjurkan untuk memberikan ucapan doa dan selamat kepada yang bersangkutan.

 

عن ابن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا قفل من غزو أو حج أو عمرة يكبر على كل شرف من الأرض ثلاث تكبيرات ثم يقول لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير آيبون تائبون عابدون ساجدون لربنا حامدون صدق الله وعده ونصر عبده وهزم الأحزاب وحده رواه البخاري . Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah bila kembali dari suatu peperangan atau haji atau umrah, beliau bertakbir 3 kali kemudian mengucapkan: Tidak ada tuhan yang Esa tidak sekutu baginya. Baginyalah Kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia atas segala sesuatu Maha Kuasa. Orang-orang yang kembali, orang yang taubat, orang yang beribadah, orang yang bersujud, orang yang memuji. Benar dalam janji-Nya menolong hamba-Nya serta menghancurkan sekutu dengan sendirian.

 

Yang secara harfiah ada tuntunannya anjuran melakukan shalat sunah safar dua rakaat sebelum keberangkatan. Dianjurkan setelah membaca surat Fatihah untuk membaca surat Kafirun di rakaat pertama dan surat al-Ikhlas di rakaat kedua.

 

Imam al Nawawi mengatakan dalam kitab al Majmu’: ”disunnahkan ’al naqi’ah’, yaitu memberikan ucapan doa selamat dan menyediakan makanan bagi orang yang baru datang dari perjalanan dan bagi orang yang menyambut kedatangannya” (al Majmu’, juz IV h 400). Orang yang bepergian atau keluarganya menyiapkan acara sebagai rasa syukur atas keselamatan orang yang bepergian dan menjalin silaturahim yang tidak mungkin datang kepadanya satu per satu.

 

Suatu riwayat dari Jabir bin Abdillah bahwa ”Rasulullah ketika datang ke Madinah menyembelih unta atau sapi”. Hadis riwayat Bukhari ini menunjukkan bahwa disyariatkan menyediakan makanan dalam rangka menyambut dan mensyukuri kedatangan orang dari bepergian dengan selamat, terutama sekali bagi orang yang datang menunaikan ibadah haji.

 

Jadi sekali lagi kewalik, seharusnya setelah pulang haji baru diadakan selamatan, bukan mau berangkat haji.______________________________________

 

Catatan Si ‘Mbah Yang Lain

 

SETIAP calon jamaah haji yang akan menunaikan ibadah haji, lazimnya mengadakan suatu acara dimana keluarga, handai tolan, tetangga, akan hadir di rumah calon haji tersebut tujuannya untuk menyampaikan ucapan selamat dan mengiringi doa keberangkatan calon jamaah haji agar lancar didalam pelaksanaan ibadah dan mendapat predikat haji mabrur. Bermaaf maafan, kemudian sebagian dari undangan yang hadir memesan doa tertentu atau bahkan oleh-oleh tertentu dari Arab Saudi kepada calon haji. Kebiasaan ini diiringi suatu harapan, pada suatu hari kelak, mudah-mudahan mereka pun mampu melaksanakan ibadah haji sebagaimana orang yang akan melaksanakan Rukun Islam kelima tersebut.

 

Sebenarnya kegiatan yang biasa disebut “Walimatussafar Haji” ini tidak ada tuntunannya baik dari Rasulullah maupun para sahabat jika ini dikaitkan dengan ritual perjalanan haji itu sendiri. Ini hanyalah sebuah tradisi, sehingga Anda sebagai calon jamaah haji harus mengetahui betul bahwa yang Anda lakukan bukan suatu keharusan, tidak ada kewajiban maupun sunnahnya. Tradisi yang demikian tidaklah buruk asalkan niat Anda melakukan bukan karena hal-hal yang bersifat syar’i.

 

Waliimatussafar berasal dari akar kata Waliimah yang berarti jamuan atau pesta dan Safar yang berarti perjalanan. Dengan demikian kata Waliimatussafar berarti jamuan atau pesta bagi orang yang hendak melakukan perjalanan jauh.

 

Dalam kaitannya dengan ibadah haji maka sebenarnya Rasulullah tak pernah melakukan acara Waliimatussafar secara khusus, dan jika berkeyakinan bahwa acara Waliimatussafar ini merupakan rangkaian dari ibadah haji maka itu mengada-ngada (bid’ah). Apalagi kalau acara Waliimatussafar akan merusak ibadah haji itu sendiri seperti mengurangi keikhlasan, padahal ikhlas itu ruhnya ibadah. Pasalnya tak sedikit orang ingin menggelar acara Waliimatussafar hanya untuk tujuan tak seharusnya seperti agar nantinya ia disebut pak/ibu haji, sehingga terjebak dalam perbuatan Riya.

 

Kebiasaan yang sudah mulai mentradisi di masyarakat kita;

 

 

1. Untuk keluarga yang ditinggalkan begitu orang tua (calon haji) kita sudah terbang / lepas landas nanti, maka anak-anaknya diminta membaca surah yasiin dan berdo’a agar diberi keselamatan. 

2. Ketika calon haji sedang di Arafah, maka keluarga diminta membaca surah Yasiin dan berdo’a agar diberi kemudahan dan tidak kepanasan.Kemudian membagikan makanan kepada orang miskin (Shodaqoh) untuk satu orang jatahnya membagi ke 9 orang miskin jadi kalau suami isteri membagi makanan untuk 18 orang. Kalau mau bersedekah ya sedekah aja ngga’ usah dikait-kaitkan dengan pelaksanaan ibadah haji. 

3. Ketika calon haji melakukan melontar jumrah, maka keluarga diminta membaca surah Yasiin dan do’a karena pada saat melontar begitu banyak jamaah haji yang meninggal seperti kasus terowongan mina dsb, untuk itu didoakan agar diberi selamat. 

4. Setiap malam jum’at agar diadakan yasinan (baca surat yasin bersama, mengundang jamaah). 

5. Ketika besok akan berangkat maka malamnya diadakan yasinan.

Padahal agama ini mudah, kenapa syiar yang dilakukan oleh ustadz, kiyai jadi mempersulit. Untuk mengadakan acara yasinan dengan mengundang orang setiap malam jum’at bukankah butuh biaya, lagi pula tidak ada tuntunannya dari Rasulullah.

 

Di antara macam-macam tradisi yang terus dipertahankan :

 

1. Ketika calon haji mau keluar rumah, maka dikumandangkan Adzan didepan pintu keluar (banyak dilakukan di Medan, Palembang dan Kalimantan juga tidak tahu kalau didaerah lain). 

2. Kain ihram yang akan dipakai kalau di Pematang Siantar (SUMUT) dibasahi dengan air dulu kemudian didoakan oleh ustadz katanya biar dingin dipakai ditanah suci. 

3. Menuliskan lafadz dua kalimat shahadat, kemudian dipotong menjadi shahadat ain dan shahadat rasul, potongan yang satu dibawa oleh calon haji yang satunya ditinggal dirumah agar nanti si calon haji bisa kembali ke tanah air dengan menyatukan lagi potongan tadi manjadi kalimat utuh dua kalimat shahadat.

 

Imam Nawawi dalam kitabnya Al-Iidhaah telah merinci adab-adab safar itu yang antara lain:

 

1. Pertama, sebelum berangkat meninggalkan rumah dianjurkan untuk shalat dua rakaat dimana pada rakaat pertama membaca surat Al-Kafirun dan pada rakaat kedua membaca Al-Ikhlas, kemudian setelah salam membaca ayat Kursi, surat Al-Quraisy, Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas yang dilanjutkan dengan berdo’a agar urusannya dimudahkan. 

2. Adab safar lain yang disebutkan Imam Nawawi adalah: hendaknya ia mengucapkan wada’ (pamitan) terhadap keluarga, para tetangga dan para teman dekatnya. Tujuannya adalah untuk meminta maaf terhadap mereka dan agar mereka mendo’akannya. 

3. Imam Nawawi menyebutkan adab-adab kepulangan dari safar, di antaranya: ketika tiba di rumah dianjurkan agar menuju mesjid terdekat untuk kemudian shalat dua rakaat, dan demikian juga apabila masuk ke rumah dianjurkan untuk shalat dua rakat lalu berdo’a dan memanjatkan rasa syukur kepada Allah swt. Adapun niatnya adalah tanpa perlu mengucapkannya dengan lafal-lafal khusus yang berbahasa Arab, tapi cukup berniat di hati saja tanpa perlu dilafalkan. Jadi shalat dua rakaat sepulang ibadah haji bukanlah sunah haji tetapi bagian dari adab safar saja.

 

Bahkan ada kejadian nyata, setelah mengadakan acara Walimatussafar dengan mengundang banyak orang, kemudian para tamu tadi tidak lupa memberikan amplop pulus kepada calon haji tersebut, namun apa lacur, atas kehendak Allah si calon jama’ah haji gagal berangkat ke tanah suci. Padahal walimah sudah dilaksanakan dan sudah juga dapat amplop pulus dari para tamu, akhirnya…grrrrrrrrr

 

Dus…pulangnya, bagi yang pulang dari Tanah Suci usai menjalankan ibadah haji dibuatin Gapura plus perangkat yang lain, yang lumayan besar ngabisin biaya ???

 

Mungkin Anda juga menemui hal-hal lain yang masih dipertahankan oleh masyarakat disekitar kita, semoga kita bisa memilah dan memilih mana yang menjadi tuntunan mana yang tradisi agar kita tidak masuk dalam hal-hal bid’ah dan khurafat.

 

Wallahu a’lam bishawab

 

 

 

Disunting dari berbagai Sumber Sumber : Catatan Al Akh Anwar Baru Belajar http://www.facebook.com/notes/anwar-baru-belajar/catatan-si-mbahtentang-walimatus-safar-menjelang-keberangkatan-haji/118747781501739

Posted in Uncategorized | Leave a comment

DO`A SYAWALAN

DOA SYAWALAN TVRI STASIUN D.I. YOGYAKARTA

Kamis, 15 Agustus 2013

Oleh: Anang Wiharyanto

Ya Allah ya Tuhan kami, pada saat ini kami seluruh keluarga besar TVRI Stasiun Daerah istimewa Yogyakarta berkumpul di tempat ini dalam rangka Syawalan dan Halal bi Halal bersama Direktur Utama LPP TVRI dan keluarga besar TVRI Yogyakarta ini memanjatkan puji syukur ke hadirat-Mu ya Allah seraya memanjatkan doa permohonan kepada-Mu. Ya Allah, di suasana yang fitri ini kami bermohon,

جعلنا اﷲ من العائدين  والفائزين والمقبولين  تقبل اﷲ منا ومنكم تقبل يا كريم

Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang kembali kepada fitrahnya, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang memperoleh kemenangan, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang diterima amal perbuatannya.

 innallah

ALLAHUMMA SALLI `ALA MUHAMMAD WA`ALA ALI MUHAMMAD

Ya Allah ya Tuhan kami, dengan bershalawat atas Nabi Muhammad Saw., selamatkanlah kami dari segala bentuk ketakutan dan malapetaka, penuhilah semua hajat keinginan kami, bersihkanlah seluruh kesalahan dan kejelekan kami, berilah kami derajat yang tertinggi di hadapan-Mu, dan sampaikanlah kami pada puncak dari segala tujuan kami, yakni segala kebaikan dalam kehidupan kami baik di dunia ini maupun di akhirat nanti.

   syukur nikmat

 

 

Ya Allah ya Tuhan kami, berilah kami kekuatan untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepada kami dan kepada kedua orang tua kami dan kekuatan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridoi; Dengan rahmat-Mu ya Allah masukkanlah kami ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.

ALLAHUMMA NAWWIR QULUBANA BINURI HIDAYATIKA KAMA NAWWARTAL ARDHA BINURI SYABSIKA YA FATTAHU YA ALIMU IFTAH ‘ ALAYYA FATHAN QARIBAN , YA FATTAHU YA ALIMU..

Ya Allah yang Maha Rahman, dengan rahmat-Mu, sinarilah hati kami dengan nur cahaya hidayah-Mu, seperti halnya Engkau telah memberikan sinar dan cahaya terhadap bumi ini dengan matahari dan rembulan-Mu. Berkat rahmat-Mu pula, bukakanlah untuk kami perbendaharaan ilmu dan hikmah-Mu sehingga kami memperoleh pertolongan dari semua itu.

Ya Allah ya Tuhan kami, berilah kekuatan kepada kami untuk selalu dapat beribadah kepada-Mu, melaksanakan tugas-tugas kekhalifahan kami, khususnya untuk Lembaga Penyiaran Publik TVRI tercinta ini, kuatkanlah ikatan persaudaraan di antara kami, jauhkanlah kami dari segala bentuk perpecahan dan perselisihan di antara kami, dan berikan kekompakan kepada para pemimpin kami dalam mengemban tugas di lembaga ini sehingga ke depan lembaga ini akan semakin tangguh dan dapat bersaing dengan lembaga-lembaga yang lain.

Rabbana laa tuzigh quluu bana

Ya Allah ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu; karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia) (QS. Ali Imran: 8)

Image

Ya Allah ya Tuhan kami, ampunilah segala dosa dan kesalahan kami, dosa dan kesalahan ibu bapak kami dan dosa saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.

Ya Allah ya Tuhan kami, terimalah doa dan permohonan kami. Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

RABBANA ATINA FIDUNYA …

SUBHANA RABBIKA RABBIL ‘IZZATI ‘AMMA YASIFUN …

Posted in Uncategorized | Leave a comment